Baitul-Ummah.org

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel

Peran Sosial Haji mabrur

E-mail Print PDF

Dan pahala bagi haji mabrur adalah surga

(Hadist Bukhari-Muslim)

Kehidupan sekitar kita zaman sekarang nyaris telah kehilangan tujuan, bermula dengan siang dan diakhiri dengan malam, kemudian pagi memasuki siang hari. Semoga kita tidak tergolong terlena dan tidak menyadari waktu telah menggerogoti kehidupan kita sampai tiba ajal. Jika hidup hanyalah sekedar untuk memenuhi kebutuhan hari demi hari, maka hidup ini pasti tidak punya arah. Tujuannya adalah untuk hidup, tanpa menyadari hidup yang lebih tinggi, seperti kehidupan surga di akhirat. Keadaan seperti ini dapat diubah oleh penglaman menunaikan ibadah haji. Begitu kita memutusan untuk menunaikan ibadah haji dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, maka sesungguhnya kita telah berada diatas jalan menuju kepada aktualisasi haji untuk hidup menuju Allah SWT.

Quota haji Indonesia, hitung saja rata-rata per tahun 200.000. Semuanya berharap menjadi haji mabrur. Dalam waktu 10 tahun tidak kurang berjumlah 2 juta. Ketika peran sosial 2 juta haji mabrur ini eksis, maka bisa diharapkan perbaikan sosial-ekonomi dan moral sekitar 200 juta masyarakat Indonesia akan berlangsung secara nyata.. Minimal ini doa kita bersama.

Haji merupakan perjuaangan dan pengorbanan yang memiliki tujuan. Haji adalah sebuah bentuk pemberontakan melawan nasib. Kita bersiap meninggalkan rumah kita untuk mengunjungi “Rumah Allah”..atau “Rumah Umat Manusia”. di Makkah. Siapapun kita, kita adalah cucu Adam, kita adalah manusia dan khalifah Allah di muka bumi. Maka tinggalkanlah kampung halamanmu, pergilah ke Tanah Suci.. Disana kita akan menghadap Allah mensucikan kembali diri kita melewati serangkain manasik haji. Pemaknaan manasik haji memberi gambaran persiapan peran sosial haji mabrur.. Pemaknaan haji mabrur tersebut kita coba lacak melalui perjalnaan manasik haji diuraikan berikut ini.

1. Langkah Pertama : Melebur Status Sosial

Pakaian melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan “batas”” diantara umat mamusia yang menyebabkan “perpecahan” diantara manusia. Dan hampir semua “perpecahan” ini bersumber dari tindakan “diskriminasi”, yang membangkitkan semangat “Aku” dan bukan “Kita”.. Di Miqat kita niat, berpakaian ihram sama serba putih dan shalat meleburkan diri kita menjadi satu dimana semua preferensi, pola, status sosial dan bentuk perbedaan kita “hapus”. Sebuah “revolusi mental sama rasa dan sama niat” kita mulai dan serba perbedaan status secara sadar kita tinggalkan.

2. Langkah Kedua : Menghindari Perbuatan Yang Dilarang

Dalam keadaan ihram ada beberapa hal yang tidak boleh kita lakukan, misalnya setiap sesuatu yang mengingatkan kita pada posisi, kelas sosial dan ras kita. Kita tidak boleh melakukan setiap urusan keduniawian, karena kita sedang berada dalam dunia spiritual. Jangan membunuh siapapun juga. Berlatih merasakan persaudaraan. Kita dilatih untuk menekan perilaku diri kita yang bernuansa “agresif”., sombong, atau bertengkar. Jangan berburu, bersikap santun terhadap makhluk Allah. Jangan membawa senjata. Jangan menumpahkan darah. Kita sedang menuju “Rumah Allah”, “Rumah Seluruh Manusia”, sebuah gerak simbolik, kita nelemparkan nafsu kita dari fikiran kita, kemudian kita penuhi diri kita dengan ruh Allah.

3. Langkah Ketiga : Meraih Puncak Ketaatan, Thawaf Mengelilingi Ka’bah

Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan Mu.

Tidak ada sekutu bagi Mu.

Aku memenuhi panggilan Mu.

Sungguh segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milik Mu,

Maka tidak ada sekutu bagi Mu..

(Hadist)

Ka’bah adalah bangunan segi empat dan kosong. Ketika kita menyaksikan Ka’bah, kita pasti bergidik dan termangu-mangu. Tidak ada sesuatupun yang dapat kita lihat. Yang ada hanyalah sebuah ruang persegi yang kosong. Itulah arah kiblat kita. Kita shalat selama hidup, menghadap kiblat sepanjang hidup sampai kematian menjemput kita..

Jangan ada kesombongan. Kita thawaf mengelilingi Ka’bah dimulai dari tempat dimana Hajarul Aswad (Batu Hitam) berada. Di tempat inilah kita memasuki sistem alam semesta. Bersama orang lain kita bergerak mengelilingi Ka’bah, thawaf sebagai wujud ketaatan mutlak kepada Allah SWT..

Di tempat ini kita mengenang tiga sosok penegak agama tauhid, Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail yang mengajarkan dan memberi tauladan meraih puncak ketaatan hanya kepada Allah SWT.. Ketiga tokoh inilah yang menjadi sumber ajaran agama tauhid yang kita terima sebagai ajaran ibadah haji melalui Junjungan Nabi Muhammad SAW.

4. Langkah Keempat : Meraih Puncak Keyakinan, Shalat di Maqan Ibrahim AS.

Setelah kita menyelesaikan tujuh kali mengelilingi Ka’bah, selanjutnya kita shalat sunnah di Maqam Ibrahim. Maqam Ibrahim adalah sebuah batu dimana terdapat jejak kakinya. Diatas batu inilah Nabi Ibrahim, pendiri agama tauhid, berdiri untuk meletakkan batu landasan bangunan Ka’bah. Dengan sadar kita niatkan untuk meraih puncak keyakinan kepada Allah SWT. yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Dengan keyakinan tersebut, api yang sempat membakarnya atas perintah raja Namrud, kemudian api menjadi dingin, karena perintah Allah SWT. Ibrahim adalah manusia pertama yang melawan penyembahan terhadap berhala.

5. Langkah Kelima : Meraih Puncak Ikhtiar/Akal, Sa’y Siti Hajar Diantara Bukit Safa dan Marwa

Setelah selesai meraih puncak keyakinan, selesai shalat di Maqam Ibrahim, kita bergegas menuju ke “Mas’a” untuk melakukan Sa’y, berjalan cepat, lari-lari kecil, tujuh kali bolak-balik, diantara bukit Syafa dan Marwa, jarak sekitar 250 meter. Atau lari-lari kecil sepanjang sekitar 3,50 Km, mengingatkan kita pada puncak ikhtiar Siti Hajar mencari seteguk air untuk Ismail kecil. Sungguh memberi contoh ikhtiar yang luar biasa dalam menjalani hidup, sampai kemudian kaki si kecil Ismail menyentuh sumber air Zam-Zam.

Ini sebuah pelajaran hidup, kita wajib melakukan sampai pada tingkat puncak akhtiar, semaksimum kemampuan akal kita, sekalipun akhirnya Rahmat Allah jua yang kita terima dari Allah, bahkan bukan hanya seteguk air yang diperoleh, tapi sumur air Zam-Zam yang bisa kita nikmati sampai hari ini, diminum oleh berjuta-juta umat muslim dan muslimah dunia yang datang Umrah atau Haji.

Ali Shari’ati memberikan makna dalam mengekspresikan Thawaf dan Sa’y sebagai berikut :

Thawaf : Cinta Allah yang mutlak.

Sa’y : Akal/ ikhtiar yang mutlak.

Thawaf : Semuanya hanya kehendak “Allah”.

Sa’y : Semuanya hanya kehendak “Kita”.

Thawaf : Hidup, bukan demi hidup itu sendiri tapi demi menuju Allah

Sa’y : Berdaya upaya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi “air Zam-Zam” untuk semua orang.

6. Langkah Keenam : Meraih Puncak Kearifan Hidup, Wuquf di Padang Arofah

Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi,

dan kepada Allah lah kamu kembali

(Q, An Nuur : 42)

Setelah kita hampir meraih tingkat kepasrahan (thawaf) mencapai sempurna, dan puncak kemerdekaan (Sa’y) , sealnjutnya kita pergi menuju padang Arafah.

Haji adalah Arafah

(Hadist)

Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah,

berdzikirlah kepada Allah di Masy’arul Haram (bukit Quzah di Muzdalifah)

Dan berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu

(Q, Al Baqarah , 198)

Setelah kita menyelesaikan olah kesadaran melewati tahapan thawaf dan sa’y di lingkungan Ka’bah, selanjutnya kita memasuki tahapan penentuan sebuah kehidupan. Perjalanan kita menuju Allah terbagi dalam tiga tahap, yaitu :

Tahap I : Wukuf di Arafah membangkitkan “kearifan hidup”.

Tahap II : Berdzikir di Masy’arul Haram membangkitkan “kesadaran hidup”.

Tahap III : Melempar segala macam “godaan” syaitan di Mina

Bagi mereka yang pernah haji pasti melewati “pelajaran” tersebut. Dan setiap kita yang haji harus membangkitkan tiga komponen kehidupan yang sebenarnya, yaitu : kearifan, kesadaran dan melawan godaan syetan. Bagi mereka yang pulang kampung setelah haji, kita harus merawat tiga “kekuatan” tersebut, yaitu :

(1) Kearifan dalam hisup berkeluarga dan bermasyarakat.

(2) Kesadaran tauhid, selalu ingat (berdzikir) kepada Allah SWT.

(3) Kesiapan selalu melawan godaan syetan yang tak pernah henti-hentinya menyerang dan menggoda kita dalam kehidupan di keluarga maupun di masyarakat.

Bagi kita yang sangat berharap meraih haji mabrur, kereningan wukup yang dilanjutkan menuju Muszalifah dan Mina dengan perasaan tunduk meresapi sabda Rasullullah SAW :

Saat wukup, Allah menfekat ke bumi.

Allah membanggakan hambaNya dihadapan para Malaikat,

Seraya berfirman : “Dan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan”.

Ya Allah, saya ingin menjadi hamba yang lebih baik,

Dan selalu dekat dengan Mu”.

7. Langkah Ketujuh : Berkorbanlah Untuk Mendekatkan Diri Diantara Sesama

Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.

Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus

(Q, Al Kautsar, 1-3)

Setelah kita menyelesaikan “berjuang” melempar berhala di Mina, setelah melewati kebebasan dan kepasrahan mutlak, selanjutnya kita memasuki tahap akhir perjalanan menanamkan idealisme haji, yaitu kita menyembeleh korban ternak “pengganti” jiwa Ismail, putera Nabi Ibrahim. Selanjutnya kita memasuki “peran Ibrahim” dalam diri kita masing-masing..

Kita mengorbankan bukan jiwa manusia, tapi hewan ternak lambang nafsu hewani, sebagai pengganti “jiwa Ismail”, untuk dibagi-bagian dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dan diantara sersama. Sampai disini, pesan penting sebagai oleh-oleh ibadah haji kita, yaitu membagkitkan semangat berkorban untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mendekatkan diri untuk sesama.

Dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah, kita perlu dengan ringan berkorban hasil pertanian, ternak, perikanan, tambang, industri, jasa, harta (Zakat, Indak atau Shadaqah) atau bentuk pengorbanan apapun lainnya dalam berlomba membesarkan agama Allah. Akhir kehidupan kita adalah di akhirat, bukan di dunia ini. Oleh karena itu berdoalah agar dengan berhaji, kita selalu ringan berkorban buat bekal hidup kita di akhirat.

8. Langkah Kedelapan : Pesan Nabi Ismail, Ta’at Kepada Allah Dalam Keadaan Apapun

Kita telah melewati perjalanan ibadah haji sekaligus membangun idealisme haji sebagai wujud mendekatkan diri kepada Allah SWT. seperti yang dicontohkan olej Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim sejak kecil telah tertanam keyakinan tauhid. Hampir delapan puluh tahun, beliau bersama Siti Sarah belum dianugerahi putra. Dengan izin Sarah istrinya, Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, budak hitam dari Ethiopia, dan lahirlan Ismail. Setelah Ismail kecil tumbuh menjadi anak yang lucu, datang perintah Allah SWT. untuk Nabi Ibrahim, untuk menyembelehnya.

Anakku, Aku bermimpi. Di dalam mimpi itu engkau ku korbankan.

Ismail berkata :”Ayah patuhilah Allah dan janganlah ragu-ragu untuk melaksanakan perintahNya.

Nanti akan engkau ketahui, sesungguhnya aku pun patuh kepada Allah.

Dan insyaAllah dapat menaggungkannya.

Inilah pelajaran terbesar ketika kita menyelesaikan ibadah haji yaitu berkorban untuk mendekatkan diri secara penuh kepada Allah dan untuk sesama.

9. Langkah Kesembilan : Peran Sosial Haji Mabrur, Meraih Pahala Surga

Dalam perjalanan ibadah haji, kita diharapkan berperilaku agar peribadatan manasik haji menjadi panduan kehidupan kita sehari-hari, sebisa-bisanya, khususnya setelah kita pulang dari ibadah haji, yaitu : penguatan ibadah sosial, kita dengan cara menginternalisasi ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari di kampung kita masing-masing, yaitu : (1) Meleburkan status sosial diri dalam kehidupan nyata di masyarakat, (2) Selalu menghindari diri dari perbuatan yang dilarang, (3) Mengamalkan puncak kethaatan,, (4) Mengamalkan puncak keyakinan, (5) Mengamalkan puncak ikhtiar/ akal, (6) Mengamalkan puncak kearifan hidup, (7) Berkorban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan diantara sesama, (8) Membina keluarga dan bermasyarakat seperti yang dicontohkan oleh kehidupan dialogis antara Ibrahim dan puteranya Ismail, (9) Mengokohkan amalan ibadah haji tertanam dalam perilaku sosial kehidupan keseharian kita dalam memasuki kehidupan nyata sehari-hari di kampung halaman kita masing-masing.

 

Last Updated on Monday, 15 February 2010 09:42  

Ayat-Ayat Pilihan

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membershikan dan mensucikan mereka... (QS At-Taubah: 103)

Newsflash

Kini pemberdayaan Lagzis Baitul Ummah telah sampai pada tahap 2 (dua), dimana setiap mustahik menerima pinjaman modal sampai dengan 2.000.000 rupiah.