Baitul-Ummah.org

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel

Tidak Sekedar Pelayanan Modal

E-mail Print PDF

“Untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, tidak bisa hanya dengan memberi modal kepada mereka. Banyak aspek yang perlu dikembangkan agar pemberdayaan masyarakat berjalan lebih baik”.

Begitulah pendapat ibu Marjani terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh LAGZIS Baitul Ummah. Memberi modal hanya menyentuh aspek materi. Sekedar memberikan modal belum menjawab pertanyaan semisal bagaimana saya mengelola modal ini? Sanggupkah saya menerima modal ini? Dan lain sebagainya.

Permasalahan inilah yang coba untuk diatasi oleh LAGZIS Baitul Ummah. LAGZIS Baitul Ummah menggunakan sistem pembinaan yang melibatkan tenaga sukarelawan untuk membina masyarakat yang tergabung dalam suatu kelompok pembinaan, yang disebut Tempat Pelayanan Amanah Keuangan Mikro (TPAKM).

Ada tiga aspek yang menjadi bagian inti dari pembinaan. Ibu Ninik selaku Ketua Pemberdayaan menyatakan,aspek pertama adalah yang terkait dengan pengembangan kemampuan ekonomi masyarakat. Kedua adalah aspek motivasi untuk mengembangkan diri. Ketiga adalah aspek akidah sebagai faktor yang memberikan makna terhadap usaha yang coba dikembangkan.

Ketiga aspek diatas bukanlah tiga hal yang saling berdiri sendiri. Ketiga-tiganya adalah faktor penting dalam pemberdayaan masyarakat yang diusahakan untuk sinergis.

Ketika berbicara mengenai pemberdayaan, memang tidak bisa terlepas dari yang namanya modal atau dalam istilah LAGZIS Baitul Ummah disebut dengan amanah. Dalam menjaga sustainability aliran amanah ini, LAGZIS Baitul Ummah menerapkan strategi berupa memotivasi para mustahik untuk berinfaq, menabung dan bersedeqah.

Berinfaq adalah kegiatan menyisihkan uang sebesar 2 % tiap minggunya dari total amanah yang diperoleh. Menabung dan sadakah bersifat sukarela. Kegiatan menabung didasarkan pada kesadaran untuk tidak segera menghabiskan uang yang diperoleh dari dagang. Sedangkan sadakah adalah wujud kepedulian untuk saling membantu sesama.

Hasil infaq dan sadaqah diputar di dalam kelompok. Anggota dari kelompok tersebut dapat memperoleh manfaat dari adanya perputaran uang seperti ini. Sehingga mereka dapat mengembangkan usaha yang dijalankan.

Selain membina aspek materi berupa sisi ekonomi dari pemberdayaan, Tim Pembinaan LAGZIS Baitul Ummah juga membangun sisi motivasi para mustahik. Selama menjadi bagian dari kelompok binaan di daerah Dinoyo, ibu Marjani sering menjumpai para masyarakat yang memiliki kendala berupa kepercayaan terhadap diri mereka sendiri.

Salah satu pengalamannya adalah ketika membina ibu Murah. Sebelum bergabung dengan kelompok binaan LAGZIS Baitul Ummah, ibu Murah menghabiskan waktunya dengan mengemis. Aktivitas ini tidak mampu untuk membebaskan ibu Murah dari lingkaran kemiskinan.

Ketika di ajak untuk bergabung dengan kelompok binaan LAGZIS Baitul Ummah, ibu Murah sempat ragu. Beliau tidak tahu usaha apa yang dapat dijalankannya.

Keraguan ini pun dibahas bersama di dalam kelompok binaan. Motivasi awal yang diberikan kepada ibu Murah adalah dengan menjalankan usaha kecil dan mudah. Beliau pun menerima amanah dari LAGZIS Baitul Ummah sebesar Rp 150,000.

Peristiwa di atas terjadi kurang lebih ….................. yang lalu. Saat ini, ibu Murah sudah tidak mengemis lagi. Beliau sudah memiliki sebuah warung pecel sendiri.

Berkaca dari kejadian ini, bu Marjani berprinsip bahwa:

“Allah saja memuliakan manusia, sungguh dzalim jika justru manusia sendiri yang tidak memuliakan sesamanya”.

Prinsip inilah yang dipegang erat dalam membina masyarakat. Kepercayaan diri harus dibangun guna membebaskan masyarakat dari belenggu kemiskian. Kesuksesan adalah hal yang sangat bisa untuk diwujudkan oleh siapa saja di muka bumi ini.

Dalam mendefinisikan sukses ini, bu Marjani menggunakan ajaran Islam. Sukses yang hakiki adalah sukses dunia dan akhirat.

Keyakinan ini pula yang coba ditanamkan kepada mustahik. Akidah menjadi aspek ketiga yang diperhatikan oleh LAGZIS Baitul Ummah.

Dalam hal ini, bu Marjani memiliki kiat-kiat tersendiri dalam membangun akidah para mustahik. Mereka dianjurkan agar 5 menit pertama sebelum tidur untuk menyerahkan semua permasalahan kepada Allah SWT. Kemudian pada 5 menit kedua, mintalah kepada Allah bagaimana agar permasalahan ini dapat diselesaikan. Dan akhirnya di 5 menit terakhir, membayangkan bahwa semua permasalahan ini sudah dikabulkan oleh Allah, dan belajarlah untuk bersyukur. Apakah para pembaca mau mencobanya?

Aspek akidah juga diwujudkan dengan menjadikan musholla sebagai basis aktivitas pemberdayaan masyarakat. Upaya revitalisasi musholla ini menjadi hal penting, mengingat selama ini seringkali agama dilihat sebatas ritual halal/haram, jelas ibu Ninik.

Dengan menjadikan musholla sebagai tempat berkumpul, harapannya masyarakat dapat melihat agama sebagai hal yang lebih dari sekedar ibadah formal. Dengan demikian pandangan hidup dalam menjalankan usaha adalah pandangan dunia dan pandangan akhirat.

Ketiga aspek diatas pun terangkum dalam MISI Pemberdayaan TPA-KM, yaitu:

1) Membangun budaya amanah,

2) Rajin berinfaq,

3) Rajin menabung dan

4) Usaha produktif. Sementara itu, ethos kerja yang menjadi dasar TPA-KM adalah: Rabbani, amanah, mandiri,

kerjasama kelompok, partisipasi, ikhlas, produktif dan profesional.

Nah, bagaimanakah langkah Tim Pemberdayaan LAGZIS Baitul Ummah kedepannya? Dalam hal ini, Tim Pemberdayaan memiliki target untuk membebaskan masyarakat dari pengangguran, jelas ibu Ninik. Masyarakat harus memiliki usaha mandiri. Dengan cara ini, ibu Ninik percaya masyarakat dapat membebaskan dirinya dari jeratan kemiskinan.

Sementara itu, dari segi teknis, ibu Marjani memiliki rencana untuk mengembangkan model bisnis bersama. Model ini didasarkan pada kepercayaan bahwa usaha berjamaah lebih baik daripada usaha sendiri-sendiri.

 

Last Updated on Monday, 15 February 2010 12:43  

Ayat-Ayat Pilihan

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat(balasan)nya... (QS Az-Zalzalah: 7-8)

Newsflash

Kini pemberdayaan Lagzis Baitul Ummah telah sampai pada tahap 2 (dua), dimana setiap mustahik menerima pinjaman modal sampai dengan 2.000.000 rupiah.