Tradisi dalam Idul Adha adalah berqurban. Banyak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam ibadah ini. Bukan pemandangan yang aneh jika mendekati Idul Adha, banyak tempat yang menjual kambing dan sapi.
Namun ada beberapa yang mempertanyakan metode penyembelihan yang dilakukan oleh umat muslim. Pertanyaannya seputar apakah metode ini tidak menyakitkan binatang yang disembelih? Bahkan pertanyaannya menjalar ke wilayah Islam yang tidak menghargai makhluk hidup lainnya.
Pertanyaan ini pun menggelitik dua peneliti dari Universitas Hannover Jerman, yaitu Prof. Schultz dan Dr. Hazim. Keduanya pun menjalankan sebuah penelitian untuk membandingkan seberapa rasa sakit yang dirasakan oleh binatang ketika disembelih.
Metode penyembelihan yang dibandingkan adalah metode Islam dan metode barat. Untuk mengukur rasa sakit ini, digunakanlah EEG (Electroencephalograph) dan ECG (electrocardiogram).
Langkah-langkah dalam penelitian adalah:
1. Beberapa elektroda ditanamm pada permukaan otak hewan.
2. Hewan-hewan dibiarkan pulih untuk beberapa minggu sebelum proses penyembelihan dijalankankan.
3. Dalam penyembelihan, beberapa hewan disembelih dengan cepat, menggunakan pisau yang tajam pada leher dengan memotong pembuluh vena dan nadi. Metode ini adalah metode menurut ajaran Islam.
4. Beberapa hewan dibunuh dengan pistol kejut dengan metode barat modern.
5. Selama eksperimen, EEG dan ECG yang sudah ditanam pada bagian dalam binatang digunakan untuk mengukur kondisi jantung dan otak.
Berdasarkan penelitian ini, metode modern barat menunjukkan:
1. Setelah penembakan, hewan tampak tidak sadar.
2. EEG memperlihatkan sakit setelah penembakan tersebut.
3. Setelah penyetruman/penembakan jantung berhenti berdetak, hal ini menyebabkan banyak darah yang masih tersimpan dalam tubuh. Kondisi seperti ini berujung pada kondisi daging yang tidak sehat untuk dikonsumsi.
Sementara itu, metode Islam menunjukkan hasil sebagai berikut:
1. Tiga detik pertama setelah disembelih, EEG tidak menunjukkan ada perubahan ukuran pada hewan. Hal ini menandakan bahwa hewan tidak merasakan sakit akibat pemotongan di leher.
2. 3 detik kemudian EEG memperlihatkan kondisi pingsan dari hewan tersebut karena kehilangan banyak darah dari tubuhnya.
3. Setelah 6 detik, EEG menyentuh level 0, yang menandakan tidak merasakan sakit.
4. Dalam level 0 ini, jantung masih bekerja dan tulang belakang melakukan reflek yang menyebabkan darah keluar dari tubuh. Ini menyebabkan daging menjadi higenis (sehat) untuk dikonsumsi.
Dari penelitian ini, dapa dilihat bahwa metode modern barat yang dari luar tampak seakan-akan hewan tidak mengalami kesakitan, justru dalam kenyataannya tidak demikian. Hewan mengalami kesakitan karena penembakan.
Sementara itu, dengan metode Islam hewan tidak merasakan sakit. Hal ini ditunjukkan oleh ukuran EEG.
Metode penyembelihan barat pun ternyata menghasilkan kualitas daging lebih buruk daripada metode Islam. Ini diakibatkan oleh darah yang masih mengalir keluar dari metode penyembelihan Islam.
Sumber: beragam artikel dari internet.



Artikel


