Idul fitri merupakan hari dimana umat Islam di serluruh dunia dari berbagai latar belakang bergerak berduyun-duyun menuju ke tanah lapang atau masjid-masjid dengan satu semangat dan suara, yaitu takbir mengagungkan ke-Maha-Besaran Allah, tahmid memuji ke-Maha-Muliaan Allah dan tasbih menyanjung ke-Maha-Sucian-Nya.
Puasa sebagai bentuk pendidikan Rabbaniah diharapkan berhasil mengikat umat Islam kembali kedalam kesatuan nasib sebagai sesama hamba Allah, dalam kesatuan kesadaran sebagai satu umat pemeluk dienul Islam, dan dakam kesatuan tujuan mencapai Ridho Allah. Itulah semangat perjumpaan akbar pada hari yang fitri.
Puasa telah mendorong seorang muslim untuk menemukan kembali kesadaran primordialnya yang ajali berupa kefitrahan. Puasa yang diperkaya dengan ibadah lainnya di bulan Ramadhan dapat membangkitkan kembali kekuatan Ruhiyah sehingga mampu mengendalikan nafsu atau ego yang negatif dan berlebihan, seperti nafsu kekuasaan, nafsu kebendaan, nafsu biologis dan berbagai nafsu buruk lainnya.
Idul fitri sebagai momentum kembalinya manusia pada kesejatian hidupya, pada hakikatnya adalah bentuk kemenangan rohani manusia untuk memimpin kehidupannya. Rohani yang fitrah akan senantiasa cenderung pada kebenaran (hanief), kebaikan (ihsan), ketulusan (ikhlas), kedamaian (mutmainah), kebahagiaan (qanaah), dan persaudaraan (mawadah fil qurba). Itulah hakikat dari firman Allah:
Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Dan celakalah orang yang mencemarinya. (QS Asy-Syam 9-10)
Fitrah akan mengajak manusian menuju Allah, sedangkan dosa menjauhkan manusia dariNya. Dosa adalah sumber kegelisahan dan keterpisahan manusia dariNya. Oleh karena itu, manusia yang senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga fitrahnya, akan memperoleh panggilan yang indah setiap saat dari Al-Khaliq, sebagaimana firmanNya:
Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan puas dan diridhoiNya. (QS Al-Fajr 27-28).
Namun, bagaimanakah manusia harus selalu menjaga fitrahnya? Adakah temuan-temuan manusia modern melalui sains dan teknologi (IPTEK) yang dapat menolong manusia mencapai fitrahnya? Jawabannya adalah tidak ada. Manusia dapat menjaga dan menggapai fitrahnya hanyalah dengan jalan agama (manhaj Islam). Itulah ketetapan Allah dalam firmanNya:
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama itu secara hanief, sesuai dengan fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (QS Ar-Rum 30)
Bahkan Allah yang Maha Rahman membangkitkan Rasul dengan salah satu tugas utamanya yaitu mensucikan manusia, agar senantiasa berada dalam fitrahnya, sebagaimana diterangkan Allah dalam firmanNya:
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Al-Jumu'ah 2)
Rohani fitrah itu ibarat telaga bening berisi air bersih tanpa noda. Ada banyak hal yang dapat mencemari fitrah manusia, satu diantaranya adalah makanan haram karena diperoleh dari cara yang bathil. Oleh karena itu rangkaian ayat-ayat puasa dalam surat Al-Baqarah 183-188 diakhiri dengan peringatan Allah untuk menjauhi cara-cara bathil dalam memperoleh harta. Sudah tentu peringatan keras ini diarahkah juga terhadap perbuatan-perbuatan yang telah begitu hebat melanda bangsa kita. Allah berfirman:
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah 188)
Apabalia kita cermati praktik ibadah puasa kita, sungguh merupakan bentuk penanaman disiplin yang begitu ketat. Seorang muslim disiang hari di bulan Ramadhan boleh jadi memiliki makanan atau minuman yang halal sebagai miliknya. Namun betapapun lapar dan dahaganya, seorang muslim yang berpuasa tidak akan melakukan korupsi (kecurangan) dengan jalan meneguk sedikit air atau menelan sebutir nasi. Semua bentuk pengendalian yang sungguh-sungguh itu, dilakukan semata-mata atas kesadaran bahwa Allah begitu dekat dan mengawasi kita.
Karena itu kita berusaha mematuhi ketentuan-ketentuan dalam ibadah puasa tersebut. Hikmah yang mestinya diperoleh dari ibadah puasa ini adalah “kalau terhadap harta yang halal saja kita bersikap sedemikian hati-hati dan disiplin, apalagi terhadap harta benda yang belum jelas atau bahkan haram”. Sudah pasti kalau kita konsisten dengan pesan ibadah kita, setiap muslim akan dengan sungguh-sungguh menjauhkan diri dari tindak korupsi.
Namun sungguh suatu ironi, walaupun kini orang ke masjid makin ramai, berpuasa makin semarak, berhaji makin membeludak, praktek korupsi di republic tercinta ini justru semakin meluas dan kronis. Korupsi telah begitu membudaya dan sistematis terjadi di dalam seluruh aspek kehidupan. Mencari kejujuran di negeri ini hampir sesusah mencari sepotong jarum di tengah tumpukan jerami. Korupsi tidak hanya terjadi di kantor-kantor pemerintah, namun di lembaga swasta dan masyarakat pun sudah menjadi budaya. Korupsi dipilih sebagai cara produktif untuk memperoleh kekayaan, baik oleh pedagang, petani, ne;ayan, apalagi pegawai.karena itu pantas apabila negeri ini tergolong dalam 5 negara terkorup di dunia. Pertanyaannya adalah kemana nilai dan hikmah dari sholat yang kita dirikan, puasa yang kita laksanakan, dan haji yang kita tunaikan, apabila moral sosial kita masih berwajah kusut dengan korupsi. Nampaknya untuk sebagian besar ibadah kita hampir mencapai “kesalehan ritual”, namun belum mampu membentuk “kesalehan moral dan sosial”. Atau, adakah di antara kita yang beranggapan bahwa harta hasil korupsi bisa disucikan dengan zakat, shalat, puasa, dan haji?
Sudah tentu apabila ada fiqih sejenis ini adalah salah satu bentuk fiqih yang bathil. Cara mensucikan diri dari korupsi adalah dengan menyesali perbuatan korup tersebut, mengembalikan seluruh kekayaan hasil korup tersebut dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi seluruh jenis perbuatan korupsi. Sementara zakat harus diberlakukan kepada harta yang halal, shalat didirikan di atas fasilitas yang halal, puasa di tegakkan dengan bekal yang halal, dan haji ditunaikan dengan biaya yang halal pula.
Pada perayaan idul fitri esok, ada tiga hal penting yang patut kita renungkan :
Pertama, apabila ummat islam gagal menangkap hikmah puasa, maka akankah ada perubahan dalam praktek korupsi?
Kedua, sudah merupakan sunatullah bagi manusia bahwa perubahan harus dilakukan secara bersama (kolektif). Keinginan kuat seorang individu tanpa dukungan aktif dari masyarakatnya tidak akan melahirkan perubahan berarti. Apalagi jika perubahan itu untuk mewujudkan kebaikan. Allah SWTtelah menetapkan :
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Ra'd 11)
Apalah arti keinginan baik seorang presiden apabila tanpa ada dukungan kuat dari menteri-menterinya. Apalah arti keinginan baik para menteri jika tanpa adanya dukungan konsisten dari aparat-aparat di bawahnya. Apalah arti keinginan baik para aparatur negara jika rakyat tidak memberikan dukungan yang semestinya. Disinilah, sekali lagi, ummat islam sebagai bagian terbesar dari rakyat indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mengubah negeri ini sebaik-baiknya.
Ketiga, apabila dalam lima tahun kedepan angka korupsi tidak bisa ditekan ke tingkat terendah, maka bangsa ini akan semakin dihadapkan pada banyak kesulitan, kemerosotan, dan makin tidak berwibawa dalam pergaulan antar bangsa. Bangsa-bangsa maju dan terhormat, dalam sejarahnya selalu di awali dengan keberhasilan memerangi penyakit sosial yang merusak sendi-sendi dan tatanan kehidupan masyarakatnya, yaitu korupsi. Ironisnya, bila citra bangsa ini terpuruk karena korupsi, maka pada saat yang sama citra ummat islam yang diproyeksikan Al-qur’an sebagai ummat terbaik untuk kemanusiaan (khaira ummatin ukhrijat linnas) juga sangat di pertaruhkan dan dipermalukan.
Peringatan rasulullah kepada orang yang suka mengambil sesuatu yang bukan haknya juga begitu keras, sebagaimana sabdanya :
Demi Allah, siapa saja diantara kalian yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, niscaya di hari kiamat dia menghadap Allah dengan memikul apa yang diambilnya didunia. Demi Allah, aku tidak ingin melihat seorang pun diantara kalian menghadap Allah dengan memikul unta, lembu, atau kambing yang mengembik.
Kemudian Rasulullah menengadahkan kedua tangannya hingga terlihat putih kedua ketiak beliau , seraya bersabda :
Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan (HR Bukhari-Muslim).
Apabila kita, ummat islam, ingin berperan secara terhormat dan menentukan di negeri ini, apabila kita masih benar-benar mencintai republik ini, marilah dengan fitrah yang kita peroleh dari ibadah puasa kita, kita hentikan praktek korupsi semaksimal mungkin. Pertama, kita mulai dari diri kita dan keluarga kita. Kita jangan pernah bangga membawa pulang hasil korupsi ke rumah kita. Keluarga yang di rumah juga harus merasa terhina apabila melihat salah seorang anggota keluarga membawa pulang harta hasil korupsi.
Kedua, kita mulai juga mendidik lingkungan kita, baik di kantor maupun masyarakat luas, untuk meyakinkan bahwa korupsi ini adalah benar-benar perbuatan haram yang akan merusak kehidupan masa depan baik di dunia maupun di akhirat. Kita juga harus mempersulit berlangsungnya praktek korupsi dimanapun kita temukan.
Ketiga, masjid juga melakukan proses penyadaran yang sungguh-sungguh terhadap jama’ahnya tentang betapa bahayanya korupsi. Apabila bid’ah sering kita dengungkan sebagai penyakit ibadah yang akan merusak dan menyebabkan kita tersesat, marilah kita membangun kepekaan yang sama terhadap korupsi. Kita himbau masyarakat untuk lebih sering mendengungkan bahwa korupsi adalah penyakit moral dan sosial yang akan merusak dan menyesatkan bangsa.
Semoga idul fitri tahun ini bisa menjadi energi moral (driving force) sehingga kita mampu melakukan jihad sosial yang begitu mendesak ini. Kalau kita dengan sungguh-sungguh berjuang untuk menyelamatkan ummat dan bangsa ini insyaAllah selalu ada jalan terbaik di depan kita.
Ditulis oleh: Imam Hidayat, diedit oleh Kharirotul Latifah



Artikel


