Baitul-Ummah.org

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel

Tauhid, Cinta dan Qurban

E-mail Print PDF

Ya Allah, kami menyeru kebesaran-Mu dan menginsafi betapa kecil dan hinanya diri kami. Kami sujud di bumi-Mu berhidmad betapa agung singgasana-Mu, kekuasaan-Mu dan kebesaran-Mu.

Ya Allah betapa remeh dan kecilnya kekayaan, kekuasaan, gelar, pangkat dan kekuatan kami di depan kekayaan, kekuasaan, kekuatan dan keagungan-Mu.

Ampunilah kami atas kekhilafan, keangkuhan dan kesombongan diri kami dengan secuil nikmat atau karunia yang Kau limpahkan kepada kami.

Ampunilah kami masih belum mampu berkumpul di arafah bersama saudara kami untuk memenuhi panggilan-Mu melalui seruan Rasul dan Ibrahim a.s.

Ampunilah kami masih belum mampu meninggalkan rumah-rumah kami untuk menemui-Mu di rumah-Mu yang suci, Baitullah.

Pada hakikatnya peringatan idul adha, idul qurban, dan pelaksanaan ibadah haji adalah dalam rangka menapak tilasi, menghayati, dan menteladani apa-apa yang telah diperbuat oleh nabiullah Ibrahim a.s dan keluarganya, setelah semua itu ditetapkan oleh syariat nabi Muhammad SAW.

Ibarat memutar waktu ke masa lampau, yaitu 4000 tahun silam, masing-masing kita berikhtiar dan berkhidmad untuk berperan dalam suatu pagelaran, yaitu idul adha, dengan suatu skenario yang telah ditetapkan Allah Yang Maha Esa.

Mungkin diantara kita, harus ada yang berperan sebagai sosok Ibrahim a.s, seorang yang teguh dalam pencarian kebenaran, kokoh dalam pendirian, tangguh dalam bertauhid, menjunjung cintanya pada Ilahi, menebar kasihnya pada sesama manusia, perduli terhadap manusia dan kemanusiaan kaumnya, dan siap berkorban apa saja demi ketundukan dan kepatuhannya kepada Rabb yang maha agung. Cita-cita, doa dan ikhtiarnya melintasi ruang dan waktu meninggalkan kefanaan jasadnya.

 

Mungkin diantara kita ada yang berperan sebagai Siti Hajar yang mulia. Seorang wanita yang tak terperangkap oleh sejarah dan asal usulnya, meskipun semula dia seorang budak dan hitam. Beliau mewakili prototype ideal wanita yang patuh pada Allah, taat kepada suami, kasih sayang kepada puteranya, teguh dan sabar dalam penderitaan dan perjuangan hidup, dan kokoh dalam memegang amanah. Dia adalah universalitas nubuwah bagi nabiullah Ismail a.s.

Mungkin diantara kita harus ada yang berperan sebagai pemuda Ismail. Seorang muda ideal yang tunduk patuh kepada Allah, taat pada orang tua, sabar dalam ujian dan soleh dalam perilaku dan tindakannya.

Merekalah perilaku utama aqidah yang dikenang, dan diteladani sepanjang zaman. Merekalah penentu sejarah, panutan ibadah, leluhur para Rasul, yang tak pernah habis-habisnya disebut, dikaji dan didalami manusia beriman sepanjang zaman. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 124:

Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu(Ibrahim) panutan bagi seluruh manusia.

Keauatan, daya tarik dan keistimewaan apa yang menyebabkan Nabiullah Ibrahim beserta keluarganya dan beberapa keturunannya ditetapkan Allah sedemikian pentingnya bagi manusia. Marilah selintas kita kaji kepribadian dan keutamaan beliau sebagai Nabi, sebagai bapak, sebagai suami dan sebagai pejuang kemanusiaan.

Nabiullah Ibrahim mewakili sosok manusia yang senantiasa rindu, peduli dan cinta kepada kebenaran (hanief). Direnungkannya kehidupan dan alam semesta ini, sampai mengantarkannya pada keyakinan akan keberadaan Tuhan. Dicarinya Tuhan Yang Haq sampai pada yakin akan Allah Yang Maha Esa. Namun tidak berhenti disitu saja, secara berani beliau bertanya kepada Tuhan kemampuannya untuk menciptakan kehidupan. Dia bertanya dan bertanya. Kemampuan dan keberanian untuk bertanya itulah yang diabadikan di dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah 260:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman “Belum yakinkah engkau?” Ibrahim menjawab “Aku telah meyakini, akan tetapi hatiku tetap mantap (dengan imanku)” Allah berfirman “(kalau demikian) ambillah 4 ekor burung lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu. Kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksan”.

Keberanian berfikir dan bertanya inilah yang menempatkan beliau sebagai seorang rasul yang cendekia. Kemampuan bertanya tersebut juga mencerminkan perhatiaannya pada kebenaran dan ilmu. Karena ilmu pada hakikatnya dimulai dengan bertanya. Orang pintar senantiasa menemukan pertanyaan akan sesuatu, sementara orang bodoh selalu menerimanya saja. Orang bijak berkata seandainya kebiasaan bertanya pada anak bisa dipertahankan sampai dewasa, maka akan banyak sekali manusia yang menjadi ilmuan. Rasulullah pun bersabda:

Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian. Karena dalam bertanya itu ada 4 katagori orang yang diberi pahala, yaitu orang yang bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengarnya, dan orang yang menggemarinya.(Diambil dar kitab kanzul.....)

Kelebihan Nabiullah Ibrahim as adalah melalui proses bertanya tersebut, beliau sampai pada jawaban kebenaran, yang kemudian mewujud dalam kesadaran dalam ketauhidan. Bahwa Allah itu ada dan Esa adanya. Dialah sumber kebenaran yang satu dan universal. Tiada sekutu bagi Allah dan kebenaran yang berasal dariNya.

Dengan keyakinan tauhid tersebut, Nabiullah Ibrahim berjuang membersihkan kaumnya dari kemusyrikan. Untuk itu, beliau pertama harus berhadapan dengan pembuat patung, yang tak lain adalah Azar (Tarukh bin Nakhar), ayahnya sendiri. Lebih dari itu beliau harus berhadapan dengan kekejaman Namrud, yang mewakili kekuasaan yang bengis, penindas dan musyrik. Egoisme Namrud dirasa diusik mendengar ada seseorang yang berkeyakinan lain dengannya. Akhirnya Namrud memerintahkan untuk membakar Nabiullah Ibrahim hidup-hidup.

Nabi Ibrahim pantang surut kebelakang dalam berjuang, dan ini sekaligus pelajaran bagi pejuang-pejuang tauhid atau kebenaran, bahwa berjuang demikian ibarat bermain dengan bara api. Namun pejuang yang sungguh-sungguh dan ikhlas pada Allah, bara api itu akan terasa sejuk. Itulah sunnah Allah bagi Ibrahim as. Beliau dikeluarkan dari bara api dalam keadaan selamat dan utuh. Dunia kemudian mengusungnya sebagai bapak monoteisme (bapak ketauhidan yang sejati).

Suatu waktu Nabiullah Ibrahim bermunajat kepada Allah seperti terabadikan dalam surat Ibrahim 36,37:

Ya Rabbi, jadikanlah negeri ini (Mekkah) sebagai negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbi sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang tersebut termasuk dalam golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kita sebagai pengikut Nabi Ibrahim as mungkin telah merasa mampu membebaskan atau membersihkan ketauhidan kita dari bentuk kemusyrikan menyembah patung berhala. Namun pertanyaannya adalah sudahkah kita mampu terbebas dari penyembahan berhala-berhala modern disekeliling kita, atau bahkan berhala yang kita buat sendiri. Pernahkah diantara kita demi jabatan, pangkat, harta, nafsu, golongan atau gelar-gelar kita, kita korbankan kecintaan kita kepada Allah, abaikan perintahnNya, kita terjang laranganNya, kita dustakan kebenaranNya. Jika ia, maka kita masih memelihara berhala-berhala dalam hidup kita. Inilah yang dimaksud bahwa berhala-berhala itu telah menyebabkan banyak manusia dan kemusyrikan itu adalah kedhaliman yang amat besar (surat Luqman: 13).

Setelah hampir seabad usianya, rambutnya telah memutih, punggungnya telah melemah, badannya telah letih dengan perjuangan menegakkan tauhid dan kebenaran, Ibrahim as sadar pentingnya generasi penerus, yang akan melanjutkan risalahnya. Sementara dari istrinya, Saroh, ia belum dikaruniai seorang putra.

Ibrahim as mengadu kepada Allah akan kerisauan tersebut. Melalui doa demi doa. Kemudian melalui Saroh, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar, hamba sahaya yang berkulit hitam. Dari perkawinan tersebut lahirkah dambaan hidupnya, Ismail as, di Palestina.

Namun belum sempurna kebahagian tersebut, telah datang ujian berikutnya berupa perintah untuk mengasingkan Siti Hajar dan Ismail kesuatu lembah tak bertuan, tiada hewan dan tumbuhan, yang berjarak kurang lebih 14 hari dari Palestina. Lembah yang sunyi ini kemudian dikenal dengan Mekkah.

Waktu terus berputar, Ismail tumbuh menjadi remaja ideal dibawah asuhan ibunya ditengah suku Jumhur yang datang kemudian ke lembah Mekkah tersebut. Semakin lama semakin berat pula perasaan rindu Ibrahim. Ditengah berkecamuknya perasaan rindu itu turunlah perintah Allah untuk mengorbankan Ismail tercinta dengan tangannya sendiri. Siapa yang tak gentar dan gemetar menerima perintah tersebut.

Ibrahim yang begitu tegar menghadapi resiko dari Namrud, dan rela mengorbankan jiwa raganya, sekarang dihadapkan pada ujian yang amat berat. Menyembelih rasa cintanya. Karena itu, tarikh mencatat bahwa sampai tiga kali perintah itu turun, baru Ibrahim merasa yakin dan menjalankannya.

Sebagai putra yang shaleh, Ismail pasrah dalam menerima perintah tersebut dan menghadapinya dengan sabar. Namun Allah yang maha kasih kepada manusia, tidak membiarkan manusia suci ini mengorbankan kecintaannya. Dan digantilah Ismail dengan seekor kibas untuk dikorbankan.

Hikmah yang dapat kita petik dari rentetan sejarah tersebut adalah bahwa ketauhidan telah mampu menumbuhkan rasa cinta yang sangat hebat kepada Allah, yang kemudian melahirkan sikap tunduk dan patuh kepada Allah yang Maha Kuasa. Inilah ketauhidan yang sejati. Rasa cinta tersebut juga mampu mewujudkan sikap rela berkorban mengorbankan sesuatu yang mungkin sangat berharga.

Sudahkah rasa cinta kita kepada Allah mampu mendidik kita untuk siap berkorban, demi kebahagiaan orang lain yang bernasib tidak sebaik kita. Bagi kita yang berkecukupan seekor kambing setahun sebenarnya masih terlalu kecil untuk mewujudkan rasa cinta, rasa syukur dan qurban kepada Allah. Namun untuk seekor kambing saja berat, bagaimana untuk seekor sapi dan bagaimana untuk sebuah mobil? Dan bagaimana dengan tahta, harta kita yang besar, dan bagaimana pula bila kita yang dipanggil balik ke sisi Allah?

Rasa cinta yang luar biasa kepada karunia Allah, seperti tahta, harta dan keluarga itulah yang menjadi penyebab berat dan mencekamnya saat-saat terakhir menjelang pertemuan dengan Allah sehingga panggilan indah berikut tak terjadi:

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai olehNya. Masuklah kedalam jamaah hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu (Al-Fajr 27-30).

Nabiullah Ibrahim telah membuktikan kepatuhan dan cintanya kepada Allah. Sebagai pengikut ibrahim, kita mungkin dihadapkan pada perintah atau pilihan-pilihan serupa, yaitu untuk mengorbankan Ismail-Ismail kita yang berupa harta, jabatan, egoisme, keangkuhan dan gelar-gelar lainnya, kalau memang semua itu akan menjauhkan kita dari Allah. Keengganan mengorbankan Ismail-Ismail tersebut untuk menuju Allah, adalah sumber malapetaka bagi kemanusiaan dan merupakan wujud dari kemunafikan yang nyata dalam beragama.

Allah Maha Rahman dan Rahim telah membatalkan penyembelihan Ismail dan menggantinya dengan seekor kambing. Semua ini memberikan pelajaran yang sangat penting bahwa Allah adalah bukan Tuhan yang haus darah. Allah melarang manusia mengorbankan (atau menjadikan tumbal) manusia, walaupun itu atas nama ibadah kepadaNya. Makna lebih jauh adalah bahwa atas nama pembangunan manusia, Allah melarang manusia mengorbankan manusia lainnya. Apalagi kalau pembangunan tersebut sekedar untuk kejayaan atau keberuntungan segelintir orang. Manusia terlalu mulia untuk dikorbankan.

Ada Siti Hajar, seorang hamba sahaya berkulit hitam disisi Ibrahim as yang karena kapatuhannya kepada Allah, menjadikannya wanita mulia, ibu para nabi, dan dikenang manusia sepanjang zaman. Ada Bilal bin Rabbah, seorang hamba sahaya kulit hitam yang kemudian menjadi seorang mulia sahabat utama Rasulullah.

Inilah salah satu doktrin pokok Islam, agama Ibrahim, sebagai konsekuensi sebagai ketauhidan, manusia didepan Allah adalah sama. Allah tidak memandang asal usul, kekayaan, pangkat, jabatan, dan berbagai gelar manusia. Yang menjadikan ukuran Allah menilai manusia hanyalah ketunduk patuhan atau ketakwaan manusia kepadaNya. Bahkan ciri-ciri nabi dari golongan Ibrahim adalah mereka selalu berasal dari masyarakat kebanyakan, hidup di tengah masyarakat, berjuang bersama masyarakat, mempunyai tatanan kehidupan yang lebih adil, damai, lebih manusiawi dan Islami.

Sebaliknya, orang yang hadir ketengah masyarakat sekedar membanggakan harta, pangkat, gelar, asal usul dan kemegahan-kemegahan lainnya diluar ukuran Allah tadi. Diam-diam mereka telah keluar dari barisan Ibrahim menuju barisan Namrud atau Fir'aun. Naudzubillah.

Ismail adalah ciri dari pemuda pelopor penegak tauhid. Dia patuh kepada Allah, taat kepada orang tua, berakhlak mulia dan shaleh. Dialah pemuda yang selalu siap menjadi syahid dihadapan Allah dan dunia selalu membutuhkan pemuda-pemuda tangguh seperti Ismail.

Semangat dan peristiwa korban di zaman Ibrahim tersebut, kemudian diteruskan menjadi syariat bagi umat Islam oleh Rasulullah. Setiap hari raya Idul Adha, Rasulullah membeli 2 ekor domba yang gemuk, bertanduk dan berbulu putih bersih. Setelah beliau mengimami salat dan berkhutbah, beliau salah satu domba tersebut seraya berkata

Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan umat Muhammad.”

Lalu beliau menyembelih hewan tersebut. Kemudian beliau membaringkat domba yang satunya lagi seraya berkata

Ya Allah terimalah ini dari umatku yang tidak mampu berkorban”.

Sebagian daging korban tersebut dimakan Rasulullah dan keluarganya. Sebagian lagi dibagikan kepada fakir miskin.

Dari contoh Rasulullah di atas bisa kita simak bahwa dalam pelaksanaan kurban tersebut, tidak ada bagian daging tersebut dipersembahkan kepada Allah. Begitu pula penyembelihannya tidak perlu dilakukan di altar pemujaan, di tengah hutan atau di tepi laut. Kurban tersebut dilaksanakan ditengah manusia dan dagingnya untuk sesama manusia. Sebagian untuk pelaku kurban dan sebagian untuk fakir miskin. Allah berfirman di dalam surat Al-Haj ayat 37:

Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai keridhaan Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Jadi walaupun ibadah kurban adalah dalam rangka taqarrub pada Allah, namun memiliki sosial di dalamnya. Dengan ibadah kurban, seorang mukmin dididik untuk mempertajam kepekaan sosialnya. Kalau dengam ibadah puasa kita bersama-sama merasakan pedihnya lapar orang-orang miskin, maka dalam ibadah kurban, kita dididik untuk membagi kebahagiaan-kebahagiaan kita dengan orang miskin.

 

Last Updated on Saturday, 01 January 2011 23:43  

Ayat-Ayat Pilihan

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah...(QS Al-Baqarah: 276)

Newsflash

Kini pemberdayaan Lagzis Baitul Ummah telah sampai pada tahap 2 (dua), dimana setiap mustahik menerima pinjaman modal sampai dengan 2.000.000 rupiah.