Penafsiran al-Qur'an berbeda dengan penerjemahan (translation) al-Qur'an. Penafsiran al-Qur'an membutuhkan bekal pengetahuan yang luas mengenai bahasa dan tata bahasa arab sebagai bahasa al-Qur'an, sebab-sebab turunnya ayat-ayat (asbabun nuzul) untuk memahami makna tekstual dan kontekstual ayat serta khasanah pengetahuan yang luas untuk menafsirkan ayat tersebut secara komprehensif. Secara non-teknis, penafsir al-Qur'an (Mufassir) harus memiliki kesadaran spiritual yang tinggi dan perilaku yang baik yang dibuktikan dengan ibadah ritual dan integritas personal yang baik.
Selama ini kajian theologis yang berhubungan dengan lingkungan sangat kurang diperhatikan oleh para mufassir. Dalam tulisan ini penulis memberanikan diri untuk melakukan interpretasi dan reinterpretasi ayat-ayat yang secara tekstual memiliki relevansi dengan permasalah-permasalahan lingkungan. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sangat memerlukan pedoman theologis dalam etika dan perilaku yang bersinggungan dengan alam. Berikut ini ditampilkan sedikit dari sekian banyak ayat yang memiliki relevansi dengan permasalahan lingkungan beserta ulasan di dalamnya:
1.Al-Baqarah 2 : 26 - 27
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا
الْفَاسِقِينَ [٢:٢٦
Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [٢:٢٧
Artinya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.
Penjelasan:
Dalam sudut pandang anthroposentrisme di mana manusia sebagai pusat perspektif sebuah sudut pandang, nyamuk merupakan hewan pengganggu yang menghisap darah manusia sehingga membuat kualitas hidup manusia tidak nyaman. Dalam ayat 26 di atas dikatakan bahwa Tuhan tidak malu ( لَا يَسْتَحْيِي ) menciptakan nyamuk dan menjadikannya perumpamaan bagi manusia. Dalam ayat ini disebutkan pula bahwa manusia yang beriman percaya bahwa Tuhan memiliki maksud dan tujuan atas penciptaan spesies nyamuk, namun bagi manusia yang fasik, nyamuk sebagai perumpamaan kekuasaan Tuhan atas alam semesta tidak dihargai.
Pada ayat selanjutnya (27), dijelaskan bahwa manusia yang fasik adalah “orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi”. Dari perspektif ekologi difahami bahwa elemen-elemen di alam saling berhubungan dan memiliki ketergantungan satu sama lain (faktor biotik dan abiotik) membentuk suatu rantai kehidupan mulai dari air, sinar matahari unsur hara tanah, produsen dan konsumen. Nyamuk merupakan salah satu bagian dari rantai makanan, keberadaannya di alam harus dihargai sebagai satu entitas spesies penting seperti spesies-spesies lainnya. Seringkali nilai penting suatu spesies hanya didasarkan atas kemanfaatannya pada manusia. Nilai kemanfaatan bagi manusia sering dipersempit kedalam nilai kemanfaatan ekonomi. Padahal terdapat nilai-nilai lain seperti nilai ekologis yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Hilangnya satu spesies dalam rantai ekologis akibat perbuatan manusia dapat mempengaruhi kesetimbangan alam dan merusaknya.
Interpretasi ayat 26 tidak dapat dipisahkan dari ayat selanjutnya (27). Kedua ayat tersebut saling berhubungan dalam mempertegas nash al-qur'an sebagai sumber etika bagi manusia dalam memperlakukan seluruh elemen di alam, mulai dari yang dianggap terkecil hingga yang paling besar.
2. Al-Baqarah 2 : 29 – 31
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"
Penjelasan:
Pernyataan bahwa “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” dalam ayat 29 surat Al-Baqarah sering dijadikan dasar argumentasi diperbolehkannya eksploitasi alam secara berlebihan. Merujuk pada ayat tersebut, pada dasarnya air, tumbuhan, hewan dan mineral di alam dapat digunakan untuk kepentingan dan kemanfaatan hidup manusia. Buah-buahan dapat dipetik dan hewan dapat disembelih untuk sumber nutrisi bagi manusia sesuai dengan kebutuhan sewajarnya.
Pada awalnya, pola konsumsi masyarakat agraris masih mengembangkan cara bercocok tanam secara tradisional. Manusia suku pedalaman yang tinggal di hutan dan hidup nomaden serta mencari makan dengan metode primitif “food gathering” dari hasil-hasil hutan, masih pula menganut faham bahwa alam senantiasa menyediakan sumber dayanya sehingga mereka bisa terus hidup dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Masyarakat tersebut hidup bergantung terhadap alam dan mengikuti ritme alam. Sistem ekonomi kapitalisme yang berkembang pada saat ini mendorong pertumbuhan produksi pada berbagai jenis barang dan jasa termasuk komoditas sumber daya alam. Pada saat ini, manusia mengeksploitasi alam secara besar-besaran untuk suatu keuntungan ekonomi. Motif tersebut mengendalikan segala aspek sosial kemasyarakatan dan membentuk sub-conscious dalam benak masyarakat untuk berfikir dan bertindak. Pada akhirnya, aktifitas eksploitasi alam yang masif menyebabkan alam tidak mampu mengembalikan kapasitasnya untuk mendukung kehidupan.
Dalam ayat 30 dikatakan bahwa Tuhan akan menciptakan “khalifah” di muka bumi. Secara harfiah (bahasa arab), khalifah diterjemahkan sebagai “pengganti”, namun secara maknawi sering pula diartikan sebagai “wakil” atau “penguasa”. Khalifah dalam ayat ini jelas tertuju pada figur manusia sesuai dengan penjelasan ayat sesudahnya (2:31). Dari ayat 30 tadi juga secara eksplisit diterangkan bahwa sosok khalifah yang dimaksud (manusia), memiliki kecenderungan membuat kerusakan di muka bumi. Akan tetapi Tuhan mengatakan bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang dimaksud dengan tujuan penciptaannya itu. Pada ayat selanjutnya (31), Tuhan menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu mengenali benda-benda (belajar dan berfikir), disamping kecenderungannya yang lain yang mampu membuat kerusakan. Secara eksplisit dapat dijelaskan bahwa manusia merupakan makhluk berfikir.
Secara menyeluruh, ketiga ayat tersebut menjelaskan posisi manusia di hadapan Tuhan, posisi manusia di alam ini, kecenderungan manusia untuk merusak bumi (biosphere) dan kemampuannya berfikir dan belajar terhadap segala sesuatu. Otoritas yang diberikan Tuhan kepada manusia terhadap segala sesuatu yang ada di biosphere bukan tanpa batas. Sebagai khalifah manusia harus mengikuti garis-garis yang sudah ditentukan Tuhan dalam memperlakukan dan memanfaatkan bumi dan seisinya sehingga tidak terjadi kerusakan. Kemampuan manusia untuk belajar segala sesuatu dapat menjadi alat bagi manusia untuk hidup di bumi ini dengan baik sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditentukan oleh Tuhan (sunnatullah).
3. Aali Imraan 3:41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Penjelasan:
Berbeda dengan makhluk lainnya di bumi, kehendak otonom yang dimiliki manusia memberikannya wewenang untuk membuat dan mengembangkan pilihan kreatif sesuai dengan yang diinginkannya. Teknologi sebagai hasil proses kreatif manusia dapat memberi dampak positif bagi kehidupan manusia. Selain dampak positif, teknologi juga dapat menghasilkan dampak negatif terhadap kehidupan manusia. Peningkatan suhu udara di bumi akibat efek rumah kaca merupakan contoh dampak negatif dari industrialisasi dan pemakaian fossil fuel secara berlebihan.
Bumi merupakan suatu sistem biosphere yang memiliki sifat kesetimbangan dinamis (dynamic equilibrium). Bumi dapat melakukan self recovery secara alamiah apabila terganggu oleh aktifitas manusia yang merusak atau terpapar oleh zat pencemar, akan tetapi proses self recovery tersebut akan berjalan sangat lambat dan bahkan berhenti apabila aktifitas manusia dan pencemar terpapar secara berlebihan. Dalam keadaan rusak berat, proses kembalinya alam menuju sistem kesetimbangan seringkali melalui proses yang ekstrim. Sebagai contoh, meningkatnya kadar CO2 di atmosphere melebihi ambang batas dapat memicu pemanasan global dan perubahan iklim secara drastis. Banjir, kekeringan dan cuaca ekstrim lainnya di beberapa belahan dunia pada saat yang sama, disimpulkan oleh para ilmuwan sebagai bagian dari efek perubahan iklim. Bencana dan kerusakan yang terjadi sebenarnya merupakan akibat dari aktifitas manusia itu sendiri. Kerugian manusia yang diakibatkan oleh bencana dan kerusakan tersebut, merupakan peringatan bagi manusia untuk mengevaluasi aktifitas-aktifitasnya yang merusak. Bencana (disharmoni) yang terjadi di bumi harus menjadi awal bagi manusia untuk kembali beraktifitas di bumi dengan mengikuti hukum-hukum alam atau sunnatullah (harmoni).



Artikel


