Perayaan hari raya ’Iedul Adha, menyembelih hewan qurban dan ibadah haji yang disyari’atkan oleh Allah SWT pada hakekatnya adalah untuk mengenang dan memperingati tiga manusia besar, yang dengan gigih, tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT, yaitu Nabi Ibrahim AS, istrinya Siti Hajar dan anaknya Nabiyullah Ismail AS. Ketaatan mereka diabadikan oleh dalam Al-Qur’an surah Mumtahanah/60 ayat 4
4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.
Pertama Teladan Nabi Ibrahim AS
Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut adalah kegigihan perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam menyelamatkan keluarganya dari suatu negeri yang tradisi dan budaya kemusyrikan telah mengakar di tengah masyarakat menuju suatu lembah tak bertuan guna membangun nilai-nilai tauhid. Prinsip Tauhid mengajarkan seorang mu’min harus berlepas dan membebaskan diri dari semua ketergantungan selain Allah, baik itu harta, tahta dan wanita (istri). Harta dalam sekejap bisa habis bila Allah menghendakinya, pangkat, jabatan dan kekuasaan sewaktu-waktu bisa pindah dan beralih ke siapa saja, wanita (istri) yang cantik lama-lama kelamaan akan tua dan berkurang kecantikannya akhirnya mati. Setelah sekian lama Nabiyullah Ibrahim AS berda’wah dengan argumentatif, telaten dan sabar, bukan persetujuan dan penerimaan yang diperoleh, tapi justru penolakan dan siksaan yang beliau terima. Bahkan sang penguasa, raja Namrud menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup.Allah SWT mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya’/21 ayat 68-70. Akhirnya Ibrahim AS
mengambil keputusan untuk meninggalkan tanah kelahirannya guna menyelamatkan keluarganya dari wabah kesyirikan yang merajalela di negerinya. Beliau mengarungi padang pasir yang ganas, sengatan terik mataharidi siang hari dan udara dingin yang menggigit bila tiba malam hari belum lagi ancaman binatang buas yang sewaktu–waktu memangsanya, tak lagi dihiraukan. Beliau menuju suatu lembah di negeri yang jauh, senyap dan tiada tanda-tanda kehidupan. Tanahnya kering dan tandus, tidak ada tanaman yang tumbuh untuk tempat berteduh dan tidak ada sumber mata air yang memancar untuk melepas dahaga. Itulah lembah Bakkah (tangisan), cikal bakal kota Makkah Al-Mukarramah yang menjadi jujugan jamaah haji saat ini. Di situlah Nabi Ibrahim menempatkan keluarganya. Allah SWT menggambarkan peristiwa ini di dalam Al-Qur’an dalam
surah Ibrahim/14 ayat 37.
Itulah profil seorang ayah, angkatan tua, generasi senior yang diwakili oleh figur Nabi Ibrahim AS, yang rela melakukan perjalanan panjang dan melelahkan perjuangan yang tak kenal menyerah dan pengorbanan yang ikhlas guna menyelamatkan istri dan anak yang bakal melanjutkan risalah da’wahnya dari pengaruh kemusyrikan masyarakatnya. Pertanyaannya adalah maukah kita yang menjadi seorang ayah, angkatan tua, generasi senior melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat oleh Nabi Ibrahim AS guna menyelamatkan anak dan generasi muda kita dari virus syirik
yang telah mewabah di negeri kita. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nashrani atau majusi. Begitu sabda Nabi dalam salah satu Haditsnya. Sebagai ayah dan orang tua kita sangat peka dan berlaku serius terhadap kesehatan jasmani putra-putri kita, tentu saja ini perlu. Tetapi yang jauh lebih perlu dan penting dan diseriusi adalah kesehatan ruhani mereka. Kita sering ribut kalau anak kita nilai bahasa Inggris dan matematikanya jelek, tapi kita abai apabila anak kita ngaji Qur’annnya masih pletotan
Kesyirikan yang melanda negeri kita Indonesia tidak kalah parahnya dengan masa Nabi Ibrahim AS, bahkan saat ini lebih samar sehingga banyak ummmat Islam yang tertipu dan terkelabui. Betapa tidak di negara kita perilaku syirik telah mewabah dan menjangkiti hampir semua lini dan level kehidupan masyarakat kita. Apa saja yang tidak terjadi di sini mulai dari tayangan film-film syirik wisata syirik, ritual yang dianggap agama padahal di dalamnya penuh dengan kesyirikan. Para dukun kini berpromosi bukan hanya lewat media cetak tapi juga di televisi, dan orang pun tak lagi mendatangi sang dukun untuk meminta ini dan itu tapi cukup megetikkan permintaan di ponselnya, ketik reg spasi jeneng, ketik reg spasi mama laurent, ketik reg spasi Romi Rafael, ketik reg spasi jodoh. Mereka mengelabui kita dengan membungkus kata-kata dukun menjadi Master, Mentalis, Ilusionis dan Master Hipnotis. Begitu juga film horror yang bertema syirik laris manis, dengan biaya sekitar 2 milyar bisa menghasilkan pendapatan 8 milyar.
Tak mau kalah dengan dunia pertelefisian dan perfilman, dunia pariwisata yang digalakkan di berbagai daerah Indonesia juga bercampur aduk dengan kesyirikan. Dengan dalih untuk menambah PAD dan menarik turis baik wisman maupun wisnu, maka Pemda pun ramai-ramai mendukung acara tersebut dengan dana APBD. Berapa yang dihasilkan dari acara tersebut yang masuk ke kas daerah apa justru malah rugi, sampai saat ini tidak jelas jeluntrungnya. Begitu pula yang terjadi di masyarakat kita. Hampir semua ritual yang dilakukan yang mereka anggap ada kaitannya dengan Islam, pada kenyataannya justru mengandung banyak kesyirikan, sebagaimana yang telah dibongkar oleh Ust. Mahrus Ali dalam beberapa bukunya yang beredar akhir-akhir ini. Termasuk di dalamnya mengkeramatkan angka 9, ruwatan, menganggap sesuatu punya kesaktian baik itu wujud kongkrit seperti benda semisal cincin. keris, jimat, dan sejenisnya maupun abstrak seperti dasar negara, yang kemudian diperingati tiap tahun.Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 116 bahwa syirik adalah dosa yang tidak terampuni.
Kedua adalah Teladan Siti hajar
Di samping peran ayah, teladan kedua adalah diperankan istri Nabiyullah Ibrahim yaitu Siti hajar. Ketegaran Siti hajar sebagai seorang istri sekaligus ibu dari anak yang masih balita patut menjadi teladan remaja dan ibu muslimah sekarang. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shohihnya, Rasulullah SAW mengisahkan, ketika telah sampai di lembah Bakkah, suatu lembah senyap dan tiada tanda-tanda kehidupan dengan tanahnya gersang dan tandus, Nabi Ibrahim pun pergi meningallkannya, sehinga Siti Hajar dengan anaknya yang masih bayi kebingungan, ia pun memanggil Nabi Ibrahim dan berkata: ”Wahai Ibrahim, hendak kemana engkau pergi? (Apakah) engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tiada manusia dan sesuatu (apapun)?” Pertanyaan ini diajukan beberapa kali oleh Siti Hajar, namun Ibrahim tetap bungkam, tidak menjawab, beliau tidak berhenti dan menoleh malah semakin mempercepat langkahnya. Akhirnya Siti Hajar sadar bahwa tentu suaminya bertindak tidak lepas dari perintah Allah, sehingga ia pun berkata:Apakah Allah yang memerintah kamu melakukan ini? Mendengar pertanyaan ini seketika itu juga Ibrahim pun menghentikan langkahnya dan tanpa menoleh beliau pun menjawab:
”Ya”.
Mendengar jawaban ini Siti Hajar pun menyahutinya:
”Kalau Allah yang memerintahkan ini, pasti Allah tidak akan menyianyiakan kami”.
Sung guh dialog Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Hajar adalah suatu dialog menarik dan patut jadi teladan bagi kita semua. Ibrahim sebagai seorang suami, ayah dan sekaligus Nabi telah berhasil mentarbiyah (mendidik) istrinya Siti Hajar, sehingga Siti Hajar tidak menjadi cengeng dan manja, beliau tahu persis akan kedudukan, tugas dan kewajiban suaminya, sadar betul bahwa mereka harus lebih mementingkan tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh Allah SWT di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Siti Hajar sadar bahwa sebagai istri seorang Nabi, punya risiko besar. Begitu seharusnya sikap para istri para Da’i dan Ustad Muballigh pengemban amanah dan risalah da’wah harus siap untuk hidup sendiri bila sewaktu-waktu sang suami dijemput Raden Khusus 88 (plesetan dari datasemen khusus 88) , karena kena fitnah sebab pakaian yang dikenakan
adalah gamis, celana cingkrang dan pakai jenggot, sehingga dianggap sebagai teroris yang tergabung dalam kelompok JI (Jamaah Islamiyah) sebenarnya lebih tepat dikatakan Jenggot Indah. Sebagai seorang istri beliau juga tidak gampang menyerah kepada keadaan, sehingga ketika anak yang masih bayi dalam gendongannya menangis kehausan, dia pun dengan sekuat tenaga berlari mundarmandir dari shawa ke marwah untuk mencari sumber air, yang diabadikan oleh Allah dengan mewajibkan jamaah haji untuk melakukan sa’i dari shawa ke marwah. Akhirnya Allah pun memberinya karunia dengan sumber mata air zam-zam yang sampai saat ini tidak pernah habis dan kering, meskipun jutaan manusia tiap tahun meminumnya.
Wanita seperti Siti Hajar tidak tidak akan kita jumpai pada diri wanita yang sehariharinya hanya sibuk keluar bekerja meniti karir sehingga lupa terhadap tugas utamanya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya dengan alasan emansipasi dan kesetaraan gender, dan mengatakan bahwa urusan rumah tangga cukup ditangani pembantu, sehingga jangan heran jika kemudian hari putra putrinya lebih patuh kepada pembantunya dari pada ibunya sendiri. Atau mungkin sang ibu kerasan di rumah, tapi waktunya dihabiskan untuk memelototi tayangan
sinetron maupun infotainment di TV yang sama sekali tidak mendidik dan bermanfaat. Wanita seperti Siti Hajar tidak akan kita temukan pada diri seorang wanita yang dengan bangga mempertontonkan aurat di depan umum dengan rok mini dan baju you can see dan tak kalah parahnya membuka auratnya di depan jutaan pasang mata dalam ajang ratu-ratuan, baik itu tingkat daerah, nasional ataupun internasional, baik miss universe, miss world dlsb dengan berbagai dalih yang seringkali hanya dicari-cari untuk justifikasi, padahal penilaian juri justru lebih banyak megeksploitasi kemolekan dan lekuk tubuh mereka.. Bahkan kasus terakhir yang amat sangat kentara adalah cewek yang dibesarkan di Jakarta tapi mengklaim sebagai wakil dari Provinsi Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah, karena dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nalai Islam dan di sanalah Syari’at Islam diberlakukan. Sungguh merupakan pelecehan, penodaan dan penistaan yang tidak termaafkan, sehinggan wajar kalau masyarakat Aceh, mulai dari gabungan organisasi wanita Aceh, DPRD Aceh dan pemerintah Aceh protes besar-besar terhadap Qori Sandioriva yang dianggap tidak tahu diri. Undang-Undang Anti Pornografi dan Porno Aksi diganjal habishabisan dan baru bisa lolos setelah dipreteli sedemikian rupa bahkan judulnya pun berubah dari yang semula ada kata antinya dihilangkan menjadi Undang-Undang Pornografi, yang implikasinya adalah bahwa meskipun porno tetap boleh asal demi seni dan kebebasan berekspresi, itu pun ada beberapa pasal yang oleh kelompok sekuler atau JIL (Jaringan Islam Liberal) dajukan ke Mahkamah Konstitusi untuk di judicial review.
Ketiga adalah teladan Nabiyullah Ismail AS
Teladan ketiga adalah teladan seorang anak, remaja yang diperankan oleh Nabiyullah Ismail AS, dimana beliau diminta pendapatnya kalau dirinya harus disembelih karena ada perintah dari Allah SWT sebagaimana tertera dalam surah Ash-Shoffat/37 ayat 102. Dialog antara Nabi Ibrahim AS sebagai seorang ayah dan Nabi Ismail AS sebagai seorang anak, menggambarkan bagaimana seharusnya seorang ayah yang juga mencerminkan angkatan tua dan generasi lebih senior dalam menjalin komunikasi dan hubungan dengan anak, angkatan muda dan generasi muda. Bagaimana semestinya seorang penguasa atau kepala Negara yang menjadi bapak rakyatnya memperlakukan rakyatnya. Figur seorang ayah, angkatan tua dan generasi lebih senior dan penguasa yang diwakili oleh sosok Nabi Ibrahim AS, yang meskipun punya kuasa dan vewenang untuk langsung melaksanakan tugas dan kewajiban yang diperintahkan padanya, beliau menjalankan dengan tidak semena-mena dan otoriter, tapi justru lebih mengedepankan musyawarah dengan cara berkomunikasi dan meminta pendapat anaknya. Begitulah seharusnya sikap seorang penguasa terhadap rakyatnya, dimana kalau masyarkatnya risau dan resah tentang aliran sesat maka pemegang kekuasaan segera membubarkannya. Begitu pula dalam mengeterapkan undang-undang dan aturan. Penguasa lebih dulu melakukan musyawarah, komunikasi langsung dengan rakyatnya sebelum mengegoalkan undang-undang dan aturan yang dibuatnya.
Kemudian bagaimana seharusnya sikap seorang anak, angkatan muda dan generasi yunior? Mereka sepatutnya mencontoh jawaban dari Nabiyullah Ismail AS yang tahu persis akan kepribadian dan keshalihan ayahnya sadar betul bahwa ayahnya hanya menjalankan perintah yang diwajibkan oleh Allah SWT, dengan sepontan menjawab:
Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Suatu jawaban lugas dari seorang anak muda yang kalbunya depenuhi oleh iman dan tawakkal kepada Allah SWT. Jawaban yang tidak akan kita jumpai pada generasi muda yang santai tidak mau bekerja keras dan berkarya, dan tidak akan kita temui pada remaja yang otaknya dipenuhi oleh pikiran kotor dan nafsu mesum, jawaban yang tidak akan kita jumpai pada anak muda yang hari-harinya dihabiskan untuk mabuk-mabukan dan main perempuan. Akhirnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS lulus dalam menjalani ujian yang diberikan Allah SWT kepada mereka. Allah SWT mengabadikan sebagaimana tertera dalam surah Ash-Shoffat/37 ayat 103-111.
Inilah kisah tiga manusia teladan sepanjang sejarah, yang tiap tahun kita peringati, rayakan dengan dengan menyembelih hewan qurban dan bagi yang mampu berkesempatan melakukan tapak tilas perjalanan Nabi Ibrahim AS lewat ibadah haji yang mereka laksanakan.





Artikel


