Baitul-Ummah.org

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel

Di Titik Nol

E-mail Print PDF

Ketika berada di titik nol, ada beberapa pilihan yang dapat diambil. Kita dapat bergerak ke kanan menuju kelompok bilangan positif. Kita juga memiliki pilihan untuk bergerak ke kiri, bergabung ke dalam kawanan bilangan negatif. Atau, jika kita menikmati ke-nol-an ini, kita dapat diam dan melanjutkan perjalanan waktu dalam kondisi nol.

Nah, dalam kehidupan sehari-hari, ke-nol-an ini secara sederhana (bila tidak bahkan secara memaksa) dapat menjadi perumpamaan terhadap situasi dimana ekonomi keluarga berada dalam posisi tidak punya atau tidak cukup. Pilihan mana yang akan diambil? Bukanlah perkara yang mudah.

Pak Dayat selaku salah satu mustahik Baitul Ummah (BU), menceritakan bahwa tidak mudah untuk dapat mengembangkan usaha ketika modal tidak ada. Ketika bekerja untuk orang lain, mungkin modal tidak menjadi masalah. Namun, karena keterbatasan keahlian yang dimiliki, pemasukanpun tidak setinggi yang diharapkan.

Dalam keterhimpitan ekonomi, dimana kebutuhan lebih besar daripada pemasukan, berhutang biasanya menjadi solusi yang paling memungkinkan untuk keluar dari himpitan tersebut. Meminjam uang kepada bank thithil, atau rentenir, bukanlah perkara yang sulit. Jalur administrasi tidak berliku-liku, bahkan justru memudahkan.

Namun, dibalik kemudahan tersebut, terdapat kesulitan ketika harus mengembalikan. Menurut pengakuan Pak Dayat, tidak jarang rentenir memasang bunga hingga 50%.

Kesulitan dalam mengembalikan uang pinjaman ini pun berakhir dengan meminjam kembali uang di pihak lain demi menutup hutang yang lama. Proses gali lubang baru untuk tutup lubang lama pun terus berlangsung. Kesejahteraan ekonomi akan sulit diraih ketika hutang terus membelenggu kehidupan.

Dalam sebuah laporan yang dimuat di Kompas, 12 Juni 2011, seringkali pihak rentenir tidak peduli dengan kondisi keuangan pihak yang berhutang. Setiap hari menagih cicilan tanpa toleransi kesanggupan pihak yang berhutang sudah menjadi hal yang biasa dilakukan.

Bahkan, menurut laporan Kompas, bisa jadi jumlah yang harus diserahkan kepada rentenir tiap harinya adalah setengah dari pemasukan perharinya. Jelas dengan himpitan seperti ini, kondisi ekonomi rakyat tidak dapat berkembang.

Menyikapi kondisi ini, Syahri Muhammad selaku Ketua BU menjelaskan bahwa selama pengalamannya dalam pengabdian masyarakat, beliau sering menjelaskan kepada masyarakat suatu pendekatan yang pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s.

Suatu ketika, Seorang raja di jaman Nabi Yusuf a.s, pernah bermimpi tentang tujuh sapi kurus gemuk memakan tujuh sapi kurus. Saat itu, tidak ada yang mampu menafsirkan mimpi tersebut selain Nabi Yusuf a.s.

Beliau menjelaskan bahwa kerajaan tersebut akan mengalami tujuh tahun panen yang disusuli oleh tujuh tahun kekeringan. Agar kerajaan dapat terhindar dari krisis, maka ketika terjadi panen kerajaan perlu menabung. Sehingga, ketika terjadi masa kekeringan di tujuh tahun berikutnya, kerajaan masih memiliki cadangan untuk bertahan hidup.

Selain menabung, Nabi Yusuf a.s. menekankan bahwa yang tidak kalah pentingnya adalah pengelolaan keuangan kerajaan. Sehingga menurut cerita, Nabi Yusuf a.s. menawarkan diri untuk menjadi bendahara kerajaan.

Penerapan hikmah dari kisah Nabi Yusuf a.s sangatlah penting bagi masyarakat. Dalam pengamatan Pak Syahri, keterhimpitan ekonomi yang dialami oleh keluarga, tidak jarang disebabkan oleh lemahnya pengaturan keuangan keluarga. Ketidakmampuan untuk memisahkan secara tepat mana yang termasuk kebutuhan utama dengan kebutuhan sekunder menjadi salah satu penyebab mudahnya pengeluaran melebihi pemasukan.

Namun, permasalahan keterhimpitan ekonomi ini tidaklah semata-mata masalah individu. Hal ini juga adalah masalah sosial. Fenomena bank thithil adalah salah satu contoh bagaimana hal di luar individu memainkan perannya dalam permasalahan ekonomi keluarga.

Sehingga untuk menyikapi permasalahan ekonomi ini, Pak Syahri menyatakan bahwa perlu diberdayakan akses-akses penting yang ditargetkan dapat memandirikan masyarakat. Terdapa tujuh akses yang penting, yaitu:

  1. Sumber Daya Alam.

Dalam hal ini adalah bahan baku yang diperlukan oleh masyarakat untuk mengembangkan bisnisinya. Pemberdayaan dalam cakupan akses ini adalah memudahkan masyarakat untuk memperoleh bahan baku yang diperlukan bagi kelancaran operasional bisnis.

  1. Pendidikan.

Salah satu pendekatan yang telah dilakukan oleh BU adalah dengan melakukan pendidikan manajemen bisnis dan keuangan. Pendidikan ini dilakukan dalam forum-forum pemberdayaan yang diselenggarakan oleh BU di titik-titik pemberdayaan.

  1. Modal.

Sistem peminjaman modal kepada masyarakat perlu memperhatikan bagaimana agar peminjaman modal tidak mengakibatkan keterhimpitan ekonomi yang berlanjut. Sehingga, tujuan dari peminjaman modal adalah untuk membebaskan diri dari hutang. Hal ini telah dilakukan BU dengan menentukan skema modal berdasarkan kesanggupan pihak yang meminjam modal (mustahik).

  1. Sosial.

Jaringan sosial dalam pemberdayaan masyarakat adalah hal yang sangat penting. Disamping kenyataan bahwa masalah ini adalah masalah sosial, jaringan sosial memungkinkan mengalirnya informasi. Keterbukaan akses terhadap informasi memungkinkan para pengusaha untuk membaca peluang dan agar dapat memetakan langkah secara strategis.

  1. Teknologi.

Akses terhadap teknologi yang tepat penting untuk memaksimalkan usaha. Dengan teknologi yang tepat, maka produk, pelayanan dan unsur lainnya dalam usaha secara kualitas dan kuantitas dapat ditingkatkan.

  1. Pasar.

Bagaimana jadinya ketika ada penjual tetapi tidak ada pembeli? Disinilah pentingnya jaringan sosial dan usaha bersama untuk kemudian membuka akses bagi usaha masyarakat agar dapat menjangkau pasar yang menjanjikan.

  1. Politik.

Menurut Pak Syahri, ketika orientasi dari politik pemerintah hanya sekedar kebijakan saja, maka permasalahan kesejahteraan bangsa tidak dapat diatasi secara maksimal. Pemerintah perlu membuat hukum yang lebih pasti. Bukan sekedar kebijakan. Karena kebijakan dapat berubah-ubah sesuai dengan kepentingan penguasa saat itu.

 

Di titik nol. Pada akhirnya, masalah keterhimpitan ekonomi bukanlah hanya masalah individu yang harus dihadapi secara individual. Ketika masing-masing anggota masyarakat terberdayakan secara ekonomi, maka roda ekonomi negara ini dapat bergerak maju. Sehingga, manfaat yang dirasakan tidak hanya dirasakan oleh beberapa individu saja, tetapi juga seluruh anggota masyarakat.

Kita semua memiliki kepentingan terhadap keberadaan dan keadaan di titik nol ini.

 

 

Ayat-Ayat Pilihan

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka (QS Ali Imran: 180)

Newsflash

Target 2015 : 50 titik wilayah das brantas terberdayakan