1. Didikan Romadhon : Menyiapkan Khalifah
Tugas (misi) manusia hidup di muka bumi adalah untuk memakmurkannya. Makmur berarti tumbuh berkembang. Ini berarti, bahwa kita harus menghiraukan dan menyuburkan kehidupan kita di muka bumi. Kita simak firman Tuhan SWT. Sebagai berikut :
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
(QS. 11 :61)
Firman diatas jelas menegaskan misi hidup kita di dunia. Kita harus memakmurkan bumi tempat kita tinggal sementara di dunia ini. Kita harus membangun kehidupan dunia. Tentu kita tidak berhenti dengan cita-cita “bahagia di dunia” saja. Agama kita mengajarkan “bahagia di dunia dan bahagia di akhirat”. Nabi SAW. mengingatkan bahwa kita hidup di dunia bersifat sementara dan tidak bedanya dengan kehidupan seorang musafir dalam sebuah perjalanan panjang menuju alam akhirat. Kita bekerja keras memakmurkan bumi untuk mencari bekal kehidupan di akhirat yang kekal. Dalam upaya memakmurkan bumi ini, kita tentu tak henti-hentinya memperkuat aset kehidupan kita agar selalu siap menghadapi kehidupan mendatang yang pasti, yaitu kehidupan akhirat yang kekal. Modal terbesar untuk selamat di dunia sampai akhirat adalah takwa.
Puasa Ramadhon merupakan proses pendidikan untuk berbagai tujuan khusus, setelah menyelelesaikan pendidikan Romadhon selamam satu bulan, kita sebagai peserta didik mampu melakukan berbagai kecakapan hidup,yaitu :
-
Mengendalikan pola hidup, khususunya pola makan yang benar.
-
Mengendalikan pola hubungan suami-istri.
-
Mengendalikan pola hubungan sosial : menghidupkan zakat, infak dan shadaqah (ZIS).
-
Mengendalikan pola fikir dengan memperbanyak membaca dan memahami Al Qur’an.
-
Mengendalikan pola pekerti / perilaku dengan membiasakan berperilaku baik, amal shaleh, sabar, teguh pendirian, syukur, tawakkal dan perilaku akhlak mulia lainnya
-
Mengendalikan pola hubungan spiritual dengan menertibkan ibadah sholat dan memperbanyak sholat malam.
Tentu sangat berguna jika kita sepanjang bulan Romadhon ini melakukan evaluasi diri berkenaan dengan uji enam kompetensi tersebut. Kita berharap agar kiranya, kita menyelesaikan puasa kita tidak hanya mendapat lapar dan dahaga saja, tapi kita lulus dan bersertifikat meraih enam kompetensi tersebut.
Dengan demikian, misi memakmurkan bumi tentu mengandung makna pentingnya kesungguhan kita sebagai orang beriman dalam menyuburkan keenam kompetrensi kehidupan kita masing-masing. Artinya kita berupaya melakukan tindakan yang subur-menyuburkan pola makan dan pola hubungan suami – istri yang benar, pola hubungan tali silaturahmi antar manusia dan Allah SWT serta juga selalu mencari untuk memperoleh petunjuk Allah SWT dengan memperbanyak mempelajari ajaran Al Qur’an dalam kehidupan, dengan pengertian SDM bermutu, material cukup, pemanfaatan sumberdaya fisik secara berkelanjutan, finansial dan hubungan sosial berkembang serta kendali spiritual berkekuatan untuk menyelamatkan dan menolong kehidupan kita bersama.
Pelatihan Romadhon sangat konsisten dengan persiapan masing-masing diri untuk menjadi khalifak di muka bumi. Status manusia di alam jagat seperti yang difirmankan Allah SWT. adalah dipersiapkan sebagai khalifah di muka bumi. Status khalifah tentu saja mengikuti kriteria sosial, professionalisme SDM, material, manajerial sumberdaya (alam dan sosial), finansial, penguasaan informasi dan spiritual. Artinya kita tidak hanya dikehendaki Allah SWT. kaya secara spiritual, tapi juga kaya dengan mutu SDM yang handal, secara material mumpuni, berkemampuan manajerial professional, finansial dan hubungan sosial kokoh, perhitungan cermat karena informasi akurat dan spiritual tangguh. Jelas, bahwa Nabi SAW. sungguh merupakan contoh dan tauladan sosok khalifah yang telah bersungguh-sungguh memakmurkan bumi, memiliki kemandirian tinggi, kekayaan spiritual dan sosial dan petunjuk.jalan lurus dari Allah SWT. Untuk memakmurkan bumi kita memerlukan penguatan aset yang kita miliki. Pasca Ramadhon, kita harus bersungguh-sungguh meraih kompetensi menjadi khalifah di muka bumi.
Kita simak firman Allah SWT. berikut :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan seorang khalifah di muka bumi
(QS. 2 : 30)
Adapun karakteristik khalifah yang dapat memakmurkan bumi yang dimaksud, mengacu uji kompetensi Nabi Adam, AS. ketika menghadapi Malaikat (dalam hal ini Allah SWT. berperan sebagai Moderator uji kompetensi Nabi Adam, AS.) adalah memiliki kapasitas sebagai berikut :
1. Berilmu-pengetahuan tentang nama-nama (konsep duniawi) tentang benda, rahasia langit dan bumi, yang nampak dan yang tersembunyi.
2. Mengemukakan (professional) tentang konsep benda tersebut.
3. Memiliki kekayaan spiritual dan keteguhan iman tauhid yang kokoh, disamping harus teguh dalam mentaati aturan Allah SWT.
Ini berarti, untuk melaksanakan misi khalifah memakmurkan bumi Allah SWT ini, maka kita harus belajar Ilmu Pengetahuan tentang rahasia langit dan bumi (duniawi), keimanan yang benar (tauhid) dan syariat Allah. Artinya, jika kita tidak mengajarkan anak kita tentang rahasia langit dan bumi (duniawi) maka kita jelas-jelas tidak menyiapkan diri untuk menjadi khalifah di muka bumi. Artinya menjadi bagian masyarakat yang selalu “dibelakang” bukan “di depan sebagai khalifah” bahkan mungkin saja “diperbudak” oleh masyarakat lain.
Keterbelakangan umat Islam salah satunya karena kita “melanggar” petunjuk Allah tersebut. Kita tidak menyiapkan umat ini sebagai khalifah di muka bumi. Disamping itu, kita juga menjadi “terbelakang” secara spirituil, jika materi pendidikan kita tidak mengajarkan pada anak cucu tentang konsep-benda-benda di dunia nyata dan yang tersembunyi (akhirat) secara komprehensif. Oleh karena itu, kalau kita ingin sukses di dunia dan akhirat, maka kita harus berilmu pengetahuan tentang benda-benda “duniawi” dan benda-benda “ukhrowi”. Dengan modal takwa dan kemandirian yang kokoh , hanya takut kepada Allah SWT.
Modal utama untuk menyiapkan diri sebagai khalifah di muka bumi adalah sebagai berikut :
2. Karakter Takwa
Rasa takut pada satu sisi merupakan salah satu unsur kelemahan yang melekat pada diri manusia. Namun, jika rasa takut kita posisikan hanya kepada Allah SWT. maka rasa takut berubah menjadi kekuatan yang luas biasa. Ia berubah menjadi “rasa cinta” dan taqwa kepada Allah SWT”. Kata Rabi’ah al Adawiah, bahwa “rasa takut” yang berubah menjadi “rasa cinta” dan taqwa kepada Allah akan menjadi kekuatan kita dalam taat kepada Allah SWT. Oleh karena itu, ketika rasa takut kepada Allah SWT berubah bentuk menjadi “rasa cinta dan takwa karena Allah SWT”, sungguh ia akan menjadi penentu sukses hidup kita di dunia sampai akhirat.
Ketika kita tidak pernah takut lapar, tidak takut miskin bahkan tidak takut mati, maka berarti kita telah memiliki kekayaan hidup yang luar biasa. Kita hanya takut kepada Allah SWT., maka kita berjalan di muka bumi percaya diri, ulet, tidak angkuh, tapi rendah hati dan tidak pernah menyerah betapapun besar ancaman kehidupan yang menghadang kita. Kita tidak pernah takut terhadap makhluk betapapun bentuk dan kekuatannya. Karena taqwa dan cinta hanya kepada Allah SWT. maka kita berani hidup mandiri, bekerja keras hanya minta pertolongan kepada Allah SWT untuk hidup mulya, karena Allah SWT. pasti menolong kita. Kita simak petunjuk Allah SWT. berikut ini.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan;Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku; Supaya kamu saling kenal- mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulya diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa
(QS. 49 : 13 )
Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan takwa maka pastilah Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya
(QS. 7 : 96)
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menyediakan baginya solusi (jalan keluar)
(QS. 65 : 2)
(Jika kita takwa), maka Allah akan memberinya risqi dari arah yang tidak terduga
(QS 65 : 3)
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah makaAllah menjadikan baginya semua urusan menjadi mudah
(QS. 65 : 4)
Kenapa seorang yang beriman dan takwa akan meraih sukses seperti yang dicontohkan Nabi SAW ?. Maka jawabnya jelas, karena ia berperilaku :
1. Khusu’ shalatnya (azas fokus dan kesungguhan hati)
2. Menjauhkan diri dari tindakan tidak berguna (azaz manfaat)
3. Menunaikan zakat (azas tangan diatas lebih mulia)
4. Menjaga faraj (azas menjaga kehormatan diri)
5. Memelihara amanah (azas kredibiltas dan keterbukaan)
6. Manjaga shalat (azas disiplin tindakan)
(QS 23 : 1-11)
3. Hanya Takut Kepada Allah SWT..
Kalau kita ingin memperoleh petunjuk Allah SWT, maka kita harus menanamkan rasa takut dan cinta hanya kepada Allah SWT. Kita selalu bersikap mandiri untuk “berjumpa” dengan Allah SWT. Dalam upaya kerinduan kita berjumpa dengan Allah SWT, maka aset spiritual hasil didikan Romadhon kita pegang teguh, aset SDM kita perkuat, karena tetap berupaya mencontoh Nabi SAW.. Aset material kita bangun karena rasa cinta kita kepada Allah SWT. Juga aset sumberdaya alam yang kita miliki kita perkuat karena takwa kepada Allah SWT. Aset finansial kita perkuat hanya karena rasa cinta kepada Allah SWT. Aset informasi kita perkuat agar kita tidak menyesal karena keputusan kita yang tidak akurat. Demikian juga aset sosial kita perkokoh hanya karena rasa rindu berjumpa dengan Allah SWT. Kita tidak takut pada makluk apapun. Kita hanya takut kepada Allah SWT. Rasa takut dan cinta kepada Allah SWT. itulah yang menjadi sumber kekuatan dan merupakan modal terbesar sebagai seorang khalifah yang tangguh ikut serta dalam memakmurkan bumi milik Allah SWT. ini.



Artikel


